Kita berpegang dengan dhazir ayat dan Sunnah. Kita tidak menta’wilkannya kecuali ada dalil yang membolehkan untuk melakukan itu dari Al-Qur’an dan Sunnah Kita beriman behwa kaum mukminin akan melihat Rabb mereka pada Hari Akhir tanpa mentakyif (menanyakan bagaimana). Dan kita beriman dengan syafa’at dan akan dikeluarkannya orang-orang yang bertauhid dari neraka Kita mencintai para Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan membenci orang-orang yang mencela mereka. Kita meyakini bahwa menghina mereka berarti menghina agama ini. Karena merekalah yang membawanya kepada kita. Kita mencintai Ahlul Bait Nabi dengan kecintaan yang berdasar syariat Kita mencintai Ahlul Hadits dan seluruh para salaf (pendahulu) ummat ini dari kalangan Ahlus Sunnah Kita tidak membenci Ilmu Kalam. Dan kita berkeyakinan bahwa dialah penyebab terbesar perpecahan ummat ini. Kita tidak menerima keterangan dari kitab-kitab fiqih, tafsir, cerita-cerita lampau dari sejarah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kecuali yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Bukan berarti kita membuangnya dan tidak butuh kepadanya, tetapi kita mengambilnya dari kesimpulan para ulama kita yang faham dan yang selain mereka. Dan kita tidak menerima hukum kecuali yang berdasarkan argumen yang shahih Kita tidak menulis dalam kitab-kitab dan pelajaran-pelajaran kita serta kita tidak berkhutbah kecuali dengan Al-Qur’an atau Hadits yang shahih untuk berhujjah. Kita membenci apa yang terdapat dalam kebanyakan kitab-kitab para pemberi nasehat, yaitu cerita-cerita bohong dan hadits-hadits lemah, bahkan palsu. Kita tidak mengkafirkan seorang muslim kecuali karena kesyirikan atau karena meninggalkan shalat atau murtad. Semoga Allah melindungi kita dari hal-hal itu Kita beriman bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah (ucapan Allah), bukan makhluk Kita berpendapat wajib saling tolong-menolong sesama muslim mana saja dalam kebenaran. Dan kita berlepas diri dari dakwah-dakwah jahiliyah Kita berpendapat tidak boleh memberontak terhadap pemerintah kaum muslimin selama mereka masih muslim. Kita tidak berpendapat bahwa revolusi adalah cara yang membawa kebaikan, bahkan itu adalah cara yang merusak masyarakat. Adapun sikap kita terhadap penguasa ‘Aden (Penguasa yg berhaluan komunis/sosialis), maka kita berpendapat bahwa memerangi mereka adalah adalah wajib hingga mereka mau bertaubat dari penyelewengannya, yaitu sosialisme dan mengajak manusia untuk beribadah kepada Lenin, Karl Mark dan tokoh-tokoh kafir lainnya Kita tidak berpendapat bahwa jama’ah-jama’ah yang baru dan banyak sekarang ini adalah penyebab perpecahan kaum muslimin dan yang melemahkan mereka Kita tidak berpendapat bahwa dakwah Ikhwanul Muslimin tidak cocok dan tidak baik untuk perbaikan masyarakat, karena mereka adalah dakwah politik, bukan dakwah yang bertujuan untuk memperbaiki jiwa. Dan dia juga dakwah bid’ah, karena dia adalah dakwah untuk membai’at orang-orang bodoh. Dan dakwah Ikhwanul Muslimin juga adalah dakwah fitnah, karena berdiri dan berjalan diatas kebodohan Kita menasehati sebagian teman-teman kita yang masih bekerja didalamnya agar mereka segera meninggalkannya, hingga dengan itu dia tidak menyia-nyiakan waktunya pada masalah yang tidak bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Dan wajib bagi setiap muslim meyakini bahwa Allah akan menolong Islam dan kaum muslimin melalui tangan muslim mana saja dan jama’ah mana saja. Adapun tentang Jama’ah Tabligh, silakan Anda membaca penuturan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Washshabi, beliau berkata:
Kita mengikat pemahaman kita dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang berdasarkan pemahaman Salaf (pendahulu) ummat ini dari kalangan ahli hadits tanpa fanatik terhadap individu mereka, tetapi kita mengambil kebenaran dari orang yang membawanya. Kita tahu ada orang yang mengaku-ngaku sebagai Salafi (pengikut Salaf), padahal Salaf berlepas tangan dengan mereka, sebab dia berteman dengan orang-orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah Kita berkeyakinan bahwa politik adalah bagian dari agama ini. Dan orang-orang yang memisahkan antara agama dan politik berarti ingin menghancurkan Dien (agama) ini dan ingin menyebarkan kekacauan seperti yang terjadi disebagian negeri kaum muslimin. Mereka mengatakan “Agama untuk Allah dan negara untuk bersama”. Ini adalah slogan-slogan jahiliyah Kita berkeyakinan bahwa tidak ada izzah (kemuliaan) dan pertolongan bagi kaum muslimin, hingga mereka mau kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Kita membenci kelompok-kelompok baru: Komunisme, Ba’tsi, Nashiry, Sosialisme, dan Rafidhah yang telah keluar dari Islam. Kita berpendapat bahwa manusia sekarang menjadi 2 golongan, yaitu golongan Hizbur Rahman (kelompok Allah), yaitu orang-orang yang melaksanakan rukun-rukun Islam dan Iman tanpa menolak sedikitpun syariat Allah, dan Hizbusysyaithan (kelompok setan), yaitu yang memerangi syariat-syariat Allah Kita mengingkari orang yang membagi agama menjadi “kulit” dan “inti”. Dan ini adalah dakwah yang menghancurkan Kita mengingkari orang yang merasa tidak butuh kepada ilmu Sunnah dan mengatakan “Ini bukan waktu mempelajarinya”. Beginilah orang yang enggan mengamalkan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Kita berpendapat handaknya kita mendahulukan yang paling penting dari yang penting. Maka wajib bagi seorang muslim untuk bersungguh-sungguh memperbaiki aqidah, kemudian membinasakan komunisme dan Ba’tsiyyah dan itu bisa tercapai dengan persatuan yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Kita berpendapat bahwa jama’ah yang merangkul Rafidhah, Syi’ah, Sufi, dan Sunni tidak bisa menghadapi musuh karena itu tidak akan tercapai kecuali dengan ukuwwah (persaudaraan) yang jujur dan persatuan dalam aqidah Kita mengingkari orang yang berkata dan menyangka bahwa para da’i yang mengajak manusia kembali kepada Allah adalah orang-orang Wahhabi. Kita tahu bahwa mereka memiliki maksud yang sangat jijik dan kotor yaitu ingin memisahkan para ulama dengan masyarakatnya Dakwah kita dan aqidah kita lebih kita cintai dari diri-diri, harta-harta dan anak-anak kita. Kita tidak akan rela menjualnya dengan emas dan uang…Kita suarakan terus dakwah ini sampai pupus harapan orang yang ingin memperalat dakwah ini. Dia mengira dia bisa mendikte kita dengan uang dan harta. Oleh sebab ini, mereka menjadi putus asa untuk membujuk kita dengan harta dan kedudukan Kita membenci pemerintah-pemerintah yang ada, sekedar (sesuai dengan) kejahatan yang mereka lakukan dan kita mencintai sekedar (sesuai dengan) kebaikan yang ada padanya. Kita tidak boleh memberontak kecuali bila kita telah melihat adanya kekafiran yang jelas pada pemerintahan-pemerintahan itu berdasarkan burhan (bukti nyata) dari Allah Pemerintah yang paling kita benci sekarang adalah pemerintahan ’Aden yang berhaluan komunis lagi Atheis, semoga Allah segera membinasakannya dan menyucikan negeri-negeri Islam darinya Kita menerima bimbingan dan nasehat dari siapa saja, karena kita adalah para penuntut ilmu yang bisa benar dan salah Kita mencintai Ulama Sunnah yang hidup sekarang. Dan kita ingin mengambil faedah dari mereka. Dan kita merasa sedih karena kejumudan sebagian mereka Kita tidak menerima fatwa kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang tsabit (kokoh) Kita mengingkari kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab dan sektor lainnya dengan adanya usaha mengunjungi kuburan Lenin dan tokoh-tokoh sesat lainnya untuk menghormati mereka Kita mengingkari pemerintah muslim yang melakukan kerja sama dengan musuh-musuh Islam, baik itu antek-antek Amerika atau komunis Kira mengingkari dakwah-dakwah jahiliyah seperti kesukuan dan fanatisme Arab. Kita menggolongkannya sebagai dakwah-dakwah jahiliyah dan termasuk sebab yang memundurkan umat Islam Kita menunggu seorang mujaddid yang Allah akan memperbaharui agama ini melaluinya. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Daud dalam sunannya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:”Sesungguhnya Allah akan membangkitkan bagi umat ini disetiap 100 tahun orang yang akan memperbaharui untuk mereka agama mereka” Dan kita berharap agar kebangkitan Islam menjadi mudah karenanya Kita berkeyakinan bahwa orang yang mengingkari hadits tentang Al-Mahdi dan Dajjal serta turunnya Isa bin Maryam adalah sesat. Dan bukan yang kita maksudkan imam Mahdi dari kalangan Rafidhah, akan tetapi dari Ahlul bait Nabi yang tergolong Ahlus Sunnah. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya bumi ini telah dipenuhi dengan kezaliman. Kita katakan “yang tergolong Ahlus Sunnah”, karena orang yang mencela Sahabat tidak dianggap adil Ini sekilas tentang aqidah dan dakwah kita. Kalau disebut dengan dalil akan memperpanjang kitab ini. Dan telah kusebut dengan panjang lebar dalam kitab “Al-Makhraj minal Fitnah”. Dan siapa yang memiliki keyakinan yang sebaliknya dari yang telah kita sebutkan ini, maka kami bersedia menerima nasehat jika dia benar dan kami bersedia berdebat jika dia salah serta berpaling darinya jika dia membangkang Ini yang perlu kita ketahui. Dan ini bukan seluruh dakwah dan aqidah kita, karena dakwah kita berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dan mengajak kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Demikianlah aqidah ini. Cukup Allah bagi kita dan Dia adalah sebaik-baik tempat bertawakal. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.
Niat baik dari dalam hati Praktek seperti ini banyak terjadi. Misalnya, seseorang mendepositokan uangnya di Bank, lalu bunganya digunakan untuk membangun masjid atau pesantren. Ini merupakan perbuatan yang layak dipertanyakan kebenarannya. Bunga bank, yang menurut para ulama adalah haram, bagaimana mungkin barang haram digunakan untuk proyek kebaikan? Seorang pejabat mendapat uang jutaan atau milyaran rupiah dari hasil manipulasi, korupsi atau kolusi, atau seorang penjudi, pelacur, kemudian mereka berniat menolong anak yatim dan orang miskin dari hasil pekerjaan yang haram itu, maka hukumnya tetap haram, dan tidak boleh digunakan untuk berbagai kegiatan kebaikan. Yang haram tidak bisa dibersihkan dengan menshadaqahkan uang hasil perbuatan haram. Allah tidak akan menerima yang haram, meskipun dengan niat yang baik. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ...إِنَّ اللهَ تَعالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً... ...Sesungguhnya Allah Ta'ala itu baik, tidak menerima sesuatu, kecuali yang baik... (HR. Muslim, no. 1015; At Tirmidzi, no. 2989 dan Ahmad, II/328) Harta yang haram bukan milik orang yang mendapatkannya. Karena itu, tidak boleh ia bershadaqah dengan uang tersebut. Harta apapun yang dikeluarkan dari hasil bunga, curian, pelacuran, perdukunan, manipulasi, dan lainnya yang haram, semua itu tidak diterima oleh Allah ta'ala. Imam Sufyan Ats-Tsauri pernah berwasiat kepada Ali bin Al-Hasan: "...Janganlah kamu melakukan usaha (mencari mata pencaharian) yang buruk, lantas hasilnya kamu infakkan untuk mentaati Allah. Karena meninggalkan pekerjaan (usaha yang buruk) merupakan kewajiban dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang bajunya terkena air kencing, kemudian ia ingin mencucinya dengan air kencing yang lain? Apakah mungkin bisa membersihkannya? Jelas tidak mungkin bersih. Kotoran tidak mungkin dibersihkan, kecuali dengan sesuatu yang bersih dan baik. Demikian pula perbuatan yang buruk, hanya bisa dihapuskan dengan kebaikan. Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya yang haram tidak akan diterima dalam amalan, atau mungkinkah seseorang melakukan dosa lantas menghapuskannya dengan dosa yang lain?” (Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Kitab Hilyatul Auliya', VII/71-72. Dikutip dari Min Washaya As Salaf, hlm. 41, oleh Syaikh Salim bin Id Al Hilali, Cet. Dar Ibnul Jauzi, Th. 1412 H). Dari sini kita mengetahui, Islam menolak prinsip Machiavelli, yaitu tujuan menghalalkan segala cara. Islam juga tidak menerima, kecuali cara yang bersih untuk mencapai tujuan mulia. Jadi niat yang baik, harus disertai dengan cara yang benar dan baik pula. Niat Baik Tidak Dapat Merubah Sesuatu yang Bid'ah Ketika sebagian orang melakukan bid'ah, mereka beralasan bahwa amal tersebut dilakukan dengan niat yang baik, tidak bertujuan melawan (menentang) syari'at, tidak mempunyai pikiran untuk menambah sesuatu dalam agama, dan tidak terbersit dalam hati untuk melakukan bid'ah. Bahkan sebagian berdalil dengan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ Sesungguhnya segala amal bergantung pada niat. (Muttafaqun 'alaih) Untuk menjelaskan sejauh mana tingkat kebenaran cara mereka menyimpulkan dalil dan beberapa alasan yang dikemukakan tersebut, maka seorang muslim yang ingin mengetahui kebenaran yang sampai kepadanya serta hendak mengamalkannya, ia tidak boleh menggunakan sebagian dalil hadits dengan meninggalkan sebagian yang lain. Tetapi yang wajib dia lakukan ialah memperhatikan semua dalil secara umum, hingga hukumnya lebih dekat kepada kebenaran dan jauh dari kesalahan. Demikianlah yang harus dilakukan, bila dia termasuk orang yang mempunyai keahlian dalam menyimpulkan dalil. (Lihat pembahasan lengkapnya di kitab 'Ilmu Ushul al-Bida' hal. 59-63 oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al-Halaby, cet. Daar ar-Raayah th. 1417 H). Adapun yang benar dalam masalah sangat penting ini, bahwa sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat" adalah sebagai penjelasan tentang salah satu dari dua pilar dasar setiap amal. Pertama, ikhlas dalam beramal dan jujur dalam batinnya. Kedua, setiap amal harus sesuai Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada keterangannya dari kami, maka dia tertolak.” Dan demikian itulah kebenaran yang dituntut setiap orang dalam merealisasikan setiap pekerjaan dan ucapannya. Atas dasar ini, maka kedua hadits yang agung tersebut merupakan pedoman agama, baik yang pokok maupun cabang, yang lahir dan yang batin. Dalam hal ini, hadits “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” sebagai timbangan amal yang batin. Sedangkan hadits “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada keterangannya dari kami, maka dia tertolak” sebagai tolok ukur lahiriah setiap amal. Dengan demikian, kedua hadits tersebut memberikan pengertian, bahwa setiap amal dianggap benar, bila dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Keduanya merupakan syarat setiap ucapan dan amal, yang lahir maupun yang batin. Oleh karena itu, barangsiapa yang ikhlas dalam setiap amalnya karena Allah dan sesuai Sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, maka amalnya diterima. Dan barangsiapa yang tidak memenuhi dua hal tersebut atau salah satunya, maka amalnya tertolak. (Bahjah Qulub Al Abrar:10, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di). Demikian dinyatakan oleh Fudhail bin 'Iyadh, ketika beliau menafsirkan firman Allah, yang artinya: Supaya Dia menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya. (QS. Al-Mulk: 2) Fudhail bin 'Iyadh berkata, "Maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar tetapi tidak ikhlas, maka amalnya juga tidak diterima. Amal yang ikhlas ialah, amal yang dilakukan karena Allah. Sedangkan amal yang benar ialah, bila dilakukan sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Hilyatu 'Auliya: VIII/95, Abu Nu'aim. Dan lihat Tafsir Al-Baghawi: V/419, Jami' al-'Ulum wal Hikam: 10 dan Madarij As-Salikin: I/83). Al-'Allamah Ibnul Qayyim berkata, "Sebagian ulama salaf mengatakan, tidaklah suatu pekerjaan meskipun kecil, melainkan dibentangkan kepadanya dua catatan, mengapa dan bagaimana? Yakni, mengapa kamu melakukan, dan bagaimana kamu melakukan?" (Mawarid al-Imam al Muntaqa min Ighatsah al-Lafhan: 35). Pertanyaan pertama tentang alasan dan dorongan melakukan pekerjaan. Apakah karena ada interes tertentu dan tujuan dari berbagai tujuan dunia, seperti ingin dipuji manusia, atau takut kecaman mereka, atau ingin mendapatkan sesuatu yang dicintai secara tepat, atau menghindarkan sesuatu yang tidak disukai dengan cepat? Ataukah yang mendorong melakukan pekerjaan itu karena untuk pengabdian kepada Allah dan mencari kecintaanNya, serta untuk mendekatkan diri kepada Allah? Artinya, pertanyaan pertama adalah, apakah kamu mengerjakan amal karena Allah? Ataukah karena untuk kepentingan diri sendiri dan hawa nafsu? Adapun pertanyaan kedua tentang mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam pengabdian itu. Artinya, apakah amal yang dikerjakan sesuai syari'at Allah yang disampaikan RasulNya shallallahu 'alaihi wa sallam? Ataukah pekerjaan itu tidak disyari'atkan Allah dan tidak diridhaiNya? Pertanyaan pertama berkaitan dengan ikhlas ketika beramal. Sedangkan pertanyaan kedua berkaitan dengan mengikuti Sunnah. Sebab, Allah tidak akan menerima amal, kecuali terpenuhinya kedua syarat tersebut. Agar selamat dari pertanyaan pertama, yaitu dengan memurnikan keikhlasan. Sedangkan agar selamat dari pertanyaan kedua, yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mengerjakan setiap amal. Jadi amal yang diterima, adalah bila hatinya selamat dari keinginan yang bertentangan dengan ikhlas dan juga selamat dari hawa nafsu yang kontradiksi, dengan berpegang mengikuti Sunnah. Ibnu Katsir dalam tafsirnya (I/231) berkata, "Sesungguhnya amal yang diterima harus memenuhi dua syarat. Pertama, ikhlas karena Allah. Kedua, benar dan sesuai syari'at. Jika dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak akan diterima." Pernyataan itu dikuatkan dan dijelaskan oleh Ibnu 'Ajlan, ia berkata, "Amal tidak dikatakan baik, kecuali dengan tiga criteria. (Yaitu): takwa kepada Allah, niat baik dan tepat (sesuai Sunnah)." (Jami' al-'Uluum wal Hikam: 10). Kesimpulannya, maksud sabda Nabi shallallahhu 'alaihi wa sallam, "Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat" ialah, segala amal akan berhasil tergantung pada niatnya. Ini adalah perintah untuk ikhlas dan mendatangkan niat dalam segala amal yang akan dilakukan oleh seseorang dengan sengaja. Itulah yang menjadi sebab adanya amal dan pelaksanaannya." (Lihat Fathul Bari: I/13 dan 'Umdah al Qari: I/25). Atas dasar ini, seseorang, sama sekali tidak dibenarkan menggunakan hadits tersebut sebagai dalil pembenaran amal yang batil dan bid'ah karena semata-mata niat baik pada diri orang yang hendak melakukannya. Dan penjelasan yang lain, hadits tersebut sebagai dalil atas kebenaran amal dan keikhlasan ketika melakukannya, yaitu dengan pengertian, bahwa sesungguhnya segala amal yang shalih adalah dengan niat yang shalih. Pemahaman seperti ini sepenuhnya tepat dengan kaidah ilmiah, dalam hal mengetahui ibadah dan hal-hal yang membatalkannya.
filosofi plato tentang cinta Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya? Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta" Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?" Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)". Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya" Gurunya kemudian menjawab " Jadi ya itulah cinta" Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?" Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan saja. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan" Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja. Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?" Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya" Gurunyapun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan" CATATAN - KECIL : Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya didalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan... tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya. __________________________________________________ ____________ Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.
Mari Mengenal Bakal Imam Mahdi Sun, 2006-12-31 17:36 — admin Hadits: Dari Abdullah, Nabi S.A.W bersabda: "Jika umur dunia tinggal sehari saja niscaya ALLAH SWT akan memanjangkan hari itu hingga bangkit padanya seorang lelaki dari keturunanku atau dari kaum keluargaku, yang namanya seperti namaku dan nama bapaknya menyerupai nama bapakku, dia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kesaksamaan sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi dengan kezaliman dan kekejaman". (Hadits Riwayat Abu Daud dan Tarmizi) Ada banyak hadis sejenis dengan kualitas shahih, saya tak tuliskan di sini. Sekarang mari kita lihat bersama silsilah orang yang dikatakan oleh Abuya Ashaari Muhammad sebagai bakal Imam Mahdi yang akan datang sebentar lagi: Muhammad bin Abdullah As Suhaimi. MUHAMMAD (As Suhaimi) bin ABDULLAH bin Umar bin Abdurrahim bin Abdul Karim bin Muhyiddin bin Nuruddin bin Abdul Razak (Al Madani) bin Hassan bin Ali bin Ahmad bin Abu Bakar (Asy-Syaibani) bin Muhammad (Asadullah) bin Hassan (At Turabi) bin Ali bin Muhammad (Al Faqih) bin Ali bin Muhammad (Shahibul Mirbat) bin Ali (Khali') bin Alawi (Ats-Tsani) bin Muhammad bin Alawi (Al Awwal) bin Ubaidullah bin Ahmad (Al Muhajir) bin Isa (Ar Rumi) bin Muhammad (An Naqib) bin Ali (Al Aridhi) bin Ja'far (Ash Shadiq) bin Muhammad (Al Baqir) bin Ali Zainal Abidin bin Sayidina Husain r.a bin Sayidina Ali k.m.w + Sayidatina Fatimah r.a bin MUHAMMAD S.A.W Namanya persis nama Rasulullah S.A.W dan nama bapaknya persis nama bapak Rasulullah S.A.W. Yang di dalam kurung adalah gelaran setelah dewasa. Tanda "+" berarti "menikah". Dari silsilah ini nampak bahwa Muhammad bin Abdullah As Suhaimi adalah seorang Sayid (keturunan Sayidina Husain r.a) dan tentu saja adalah keturunan Baginda Rasulullah S.A.W. Sepuluh generasi di atas beliau adalah Sayid Abu Bakar Asy-Syaibani yang merupakan seorang pendiri kabilah. Keturunan Sayid Abu Bakar Asy-Syaibani di Nusantara ini disebut Bani Syaibani atau Basyiban atau di-Jawa-kan fam-nya "Baseban". Muhammad As Suhaimi atau lengkapnya Sayidi Syeikh Muhammad bin Abdullah As Suhaimi telah dilahirkan pada 1259 H/1843 M di Sudagaran Wonosobo. Kakek Muhammad As Suhaimi, yaitu Umar Sutodrono adalah salah seorang panglima Pangeran Diponegoro. Makam beliau (Sayid Umar) terdapat di Kaligintung Wonosobo. Gelaran "Sutodrono" didapat beliau setelah menjadi panglima tentara di Jawa. Sayid Umar dikaruniai 6 orang putera. Yang bungsu bernama Abdullah. Sayid Abdullah setelah dewasa menetap di daerah Sudagaran di Wonosobo. Beliau menikah dengan AMINAH yang masih keturunan Rasulullah S.A.W dari Sayidina Hassan. Dari perkawinan ini lahirlah Muhammad. Awalnya adalah Sayid Abdurrahim dan puteranya Sayid Umar yang berhijrah dari Hadhramaut ke Tanah Jawa beberapa tahun menjelang Perang Diponegoro meletus. Ketika perang dimulai, segera saja Sayid Umar memilih berpihak kepada Pangeran Diponegoro yang, bukan saja Islam, tetapi juga pengamal Tareqat Naqsyabandiyah (Sayid Umar sendiri adalah seorang pengamal Tareqat Alawiyah). Pangeran Diponegoro pun mengangkatnya sebagai salah seorang panglima. Setelah perang Diponegoro selesai, Sayid Umar menyingkir ke daerah Kaligintung di luar kota Wonosobo dan membuat perkampungan di sana. Sumber: -Manaqib Sayidi Syeikh Muhammad As Suhaimi. Penulis: Syeikh Thaha Suhaimi, Singapore -Silsilah Keturunan Rasulullah S.A.W dan Raja-raja Melayu -Wawancara dan kuliah dari berbagai sumber. wassalam, Penulis: -Rizal- ‹ Lupa TuhanupMengukir Takdir › Imam Mahdi Add new comment Comments Mon, 2007-03-26 18:51 — Suryadi (not verified) Meneliti Tarikh Salam. Perang Diponegoro berlaku antara 1825 hingga 1830 M. Syaikh Suhaimi pula dilahirkan pada tahun 1843 M. Apakah putera-putera Sayid Umar di lahirkan di Hadhramaut atau di Jawa? Kerna beda tahun antara Perang Diponegoro dan kelahiran Syakh Suhaimi adalah 18 tahun. Bermakna kelahiran Syaikh Suhaimi adalah bila Sayid Abdullah berusia 18 tahun paling tua? Kerna jika Sayid Abdullah dan saudara-saudara di lahirkan di luar Jawa dan kemudian berhijrah ke Jawa, maka umur Sayid Abdullah mungkin melebihi 18 tahun ketika Syaikh Suhaimi di lahirkan. Bisakah Mas Rizal memberitahukan juga nama-nama putera Sayid Umar kerna saya punya saudara yang masih kerabat dengan Syaikh Suhaimi lagi mencari silsilah beliau. Terima Kasih sebelumnya reply Sat, 2007-03-31 17:58 — Rizal (not verified) Putera-putera Sayid Umar Tidak ada berita yang jelas di mana anak-anak Sayid Umar dilahirkan. Tapi besar kemungkinan di Jawa. Perkataan "beberapa tahun sebelum Perang Diponegoro" bisa 5-10 tahun. Misalnya 5 tahun, berarti Sayid Umar mendarat di Jawa pada tahun 1820. Jika Sayid Abdullah lahir tahun 1822 saja, berarti ketika Sayidi Syeikh Muhammad As- Suhaimi lahir pada tahun 1843 ayahnya berumur 21 tahun. Sangat mungkin. Bahkan 18 tahun pun mungkin, karena saat itu biasa anak laki-laki berumur 16 tahun sudah menikah. Anak-anak Sayid Syeikh Umar Sutodrono: 1. Raden Haji Ngabehi Jami (Batur) 2. Raden Haji Noyodrono (Sudagaran) 3. Raden Haji Mangundrono (Ketinggring) 4. Raden Haji Singodrono (Sudagaran) 5. Raden Haji Surodipo (Parakan) 6. Raden Haji Abdullah (Sudagaran) Terima kasih, wassalam. reply Tue, 2007-03-20 11:19 — fuad_cholil (not verified) IMAM MAHDI JIKA IA (IMAM MAHDI) TELAH DILAHIRKAN SEJAK 1843 M, LALU KEMANA DAN DIMANA IA SAAT INI, HIDUP ATAU TELAH MATI, APA ARTI HADIST DIATAS DENGAN MENYEBUTKAN UMUR DUNIA TINGGAL SEHARI LAGI JIKA IA TELAH LAHIR 164 TAHUN YANG LALU? reply Tue, 2007-03-20 15:14 — admin Jawaban Saat ini beliau (Muhammad bin Abdullah As Suhaimi) belum mati, namun sedang berada di alam ghaib, karena ia dighaibkan oleh Allah. Insya Alah beliau akan Allah munculkan kembali jika memang sudah waktunya. Perkara manusia pindah ke alam lain (ghaib) ini sebenarnya sering terjadi pada manusia dengan izin Allah, apalagi beliau ini adalah seorang wali besar. Kabar tentang masih hidupnya beliau ini didapat dari sanak saudara beliau. Maksud dari kalimat "Jika umur dunia tinggal sehari saja niscaya ...." adalah bahwa tak akan terjadi kiamat tanpa didahului oleh munculnya Imam Mahdi. Jadi ini gaya bahasa penekanan saja, bukan betul2 Imam Mahdi muncul 1 hari sebelum kiamat. Jika dirujuk ke hadis-hadis lain tentang akhir zaman, masih ada beberapa perkara lain yang terjadi sebelum munculnya kiamat. reply Mon, 2007-03-26 16:42 — snipersnake (not verified) imam mahdi ghaib?? 1. apakah imam mahdi ghaib?? 1. apakah dalil dalam quran yg menyokong dakwaan ini? 2. ada tak hadis sahih yg support dakwaan ini? boleh berikan sanad dan matannya? 3. bukankah nama imam mahdi MUHAMMMAD bin ABDULLAH seperti diriwayatkan oleh Rasulullah? reply Thu, 2007-03-29 16:16 — admin jawaban imam mahdi ghaib kah? Sebelum masuk ke jawaban, saya bahas sedikit tentang 'mati' dan 'hidup': Lazimnya seseorang itu disebut 'mati' jika ada saksi yang melihat orang tersebut meninggal, atau ada saksi yang melihat mayat orang tersebut. Lazimnya seseorang itu disebut 'hidup' jika ada saksi yang bertemu dengan orang tersebut dalam keadaan hidup. Jika tidak dapat dipastikan seseorang itu hidup atau mati, maka lazimnya kita sebut orang tersebut sebagai 'hilang'. Dalam ketentaraan pun dikenal istilah KIA (Killed In Action) untuk tentara yang meninggal, dan MIA (Missing In Action) untuk tentara yang tidak ditemukan jasadnya. Dalam kasus Sayidi Syeikh, ada saksi yang menyebutkan bahwa pada waktu 'pemakaman' beliau, tidak ada jasad yang dimakamkan, berarti pada waktu itu beliau belum meninggal. Setelah acara 'pemakaman' tersebut, masyarakat umum tidak lagi berjumpa dengan beliau, sehingga tidak dapat dipastikan secara bulat apakah beliau masih hidup ataukah sudah mati. Dalam bahasa awam, beliau 'hilang'. JAWABAN 1: Di dalam Al Quran ada beberapa kisah orang-orang yang 'dihilangkan' oleh Allah: Dalam Al Quran dikabarkan bahwa Nabi Isa alaihi salam belum meninggal, namun beliau diangkat ke langit. Ada hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Isa akan diturunkan ke bumi di akhir zaman, jadi memang beliau belum meninggal. Artinya dapat saja Allah gaibkan seseorang untuk kemudian dimunculkan lagi di waktu yang lain. Dalam Al Quran dikisahkan juga tentang sekelompok orang bergelar Ashabul Kahfi, yang ditidurkan Allah selama 309 tahun di dalam sebuah gua. Orang-orang ini menghilang dari masyarakat dan dianggap sudah mati selama ratusan tahun, namun akhirnya Allah munculkan kembali di masyarakat. Dari kisah-kisah tersebut, nampak bahwa Allah sanggup menghaibkan seseorang dengan cara yang dikehendakiNya. Apakah hal ini berlaku pada Sayidi Syeikh ? Wallahu alam, boleh percaya boleh tidak, karena ini bukan perkara aqidah. Bagi orang yang menunggu-nunggu Imam Mahdi, dengan adanya seseorang bernama Muhammad bin Abdullah yang belum dapat dipastikan meninggalnya , maka terbuka peluang kemunculan Imam Mahdi yang amat dinantikan. Bagi orang yang tidak ada kaitan dengan munculnya Imam Mahdi, tentunya tidak ada untung ruginya untuk percaya maupun menolak. JAWABAN 2: Dari (1) nampak bahwa boleh saja IM itu Allah ghaibkan seperti halnya Nabi Isa atau Ashabul Kahfi, boleh juga tidak. Khusus untuk IM ada hadis dari Rasulullah berisi sebagai berikut: "Allah akan menzahirkan dari persembunyiannya, al-Mahdi yang (berasal) dari kaum kerabatku sejurus sebelum tibanya hari kiamat, walaupun umur dunia ini hanya tinggal sehari saja. Dia akan memenuhkan bumi ini dengan keadilan dan kesaksamaan dan akan menghapuskan kezaliman dan penindasan." (Imam Ahmad). "Allah akan menzahirkan" dapat berarti bahwa sebelum itu IM tidak zahir, atau dengan kata lain IM ghaib. Terserah kepada pembaca. JAWABAN 3. Sayidi Syeikh memang bernama Muhammad , dan ayahnya bernama Abdullah, sehingga nama beliau adalah MUHAMMAD bin ABDULLAH, sesuai dengan nama Imam Mahdi dalam hadis. Sedangkan "As Suhaimi" adalah gelar yang diberikan kepadanya, sama seperti "As Syafi'i" yang diberikan kepada Imam Syafi'i, "Al Ghazali" yang diberikan kepada Imam Ghazali, "As Sayuti" yang diberikan kepada Imam Sayuti dan sebagainya.
in the others time we'll be the devil but the one u must now 'bout we we are not two but we are one forever,,,,,,,,,,,,,,,,,, (insyaallah) many things we do it together many says we saying to others and many think we share it's the passion of love............ (thats the point!!!!!) wish we can together forever luv u so honey,,,,,,,
bla..bla..
|